kabarnetizenINDONESIA
Nasional

Militer Venezuela Gempur Kamp Pemberontak Kolombia, 19 Orang Tewas

Sedikitnya 19 orang tewas dalam operasi militer Venezuela yang menggempur kamp pemberontak Kolombia menggunakan drone dan helikopter tempur.

Foto: Detikcom - News (semua kanal)

Operasi militer yang dilancarkan oleh militer Venezuela terhadap kamp kelompok pemberontak asal Kolombia berakhir dengan jatuhnya banyak korban jiwa. Berdasarkan keterangan yang dirilis oleh Redaksi, peristiwa berdarah ini menyebabkan sedikitnya 19 orang meninggal dunia di lokasi kejadian. Serangan berskala besar tersebut menyasar sebuah area pedesaan terpencil yang dipenuhi oleh kawasan hutan lebat di wilayah perbatasan. Pihak berwenang mengerahkan berbagai alutsista canggih termasuk helikopter tempur dan pesawat tanpa awak dalam penyerangan ini.

Laporan dari lembaga swadaya masyarakat FundaRedes yang aktif memantau pelanggaran hak asasi manusia di wilayah perbatasan mengungkapkan detail waktu kejadian. Serangan mematikan tersebut berlangsung pada Jumat dini hari tanggal 30 Oktober 2026 di wilayah negara bagian Apure yang terletak di bagian barat Venezuela. Laporan awal menyebutkan bahwa ada sembilan korban jiwa yang ditemukan langsung di tempat setelah serangan udara terjadi. Situasi di wilayah perbatasan langsung mencekam pasca Gempuran militer yang menyasar basis gerilyawan tersebut.

Perkembangan jumlah korban tewas kemudian bertambah setelah pihak pemantau kemanusiaan menerima informasi lanjutan dari lapangan. Koordinator FundaRedes yakni Juan Francisco Garcia memberikan keterangan kepada kantor berita AFP pada hari Minggu tanggal 1 November 2026. Ia menyatakan bahwa ada sepuluh jenazah tambahan yang telah dievakuasi dan dibawa menuju kota San Fernando. Kota tersebut merupakan ibu kota dari negara bagian Apure tempat berlangsungnya operasi militer gabungan itu.

Target utama dari gempuran militer tersebut adalah basis pertahanan Tentara Pembebasan Nasional atau yang lebih dikenal luas sebagai kelompok gerilya ELN. Kelompok tersebut merupakan organisasi pemberontak asal Kolombia yang beroperasi di wilayah perbatasan kedua negara. Rekaman video yang disebarkan oleh FundaRedes memperlihatkan kondisi mengenaskan di lokasi kejadian usai serangan. Terlihat sejumlah jenazah tergeletak di atas tanah berdampingan dengan pepohonan yang tumbang serta sisa puing bangunan kamp.

Sumber dari kalangan militer Venezuela yang mengetahui jalannya operasi mengungkapkan adanya dugaan keterlibatan pihak asing dalam serangan itu. Menurut sumber tersebut, pelaksanaan operasi militer ini diklaim mendapatkan dukungan langsung dari badan intelijen Amerika Serikat. Pernyataan dari sumber militer itu menyebutkan adanya bantuan dari pihak CIA dan FBI atas perintah dari negara adidaya tersebut. Meskipun demikian, hingga saat ini belum ada tanggapan resmi yang dikeluarkan baik oleh Departemen Luar Negeri AS maupun pemerintah Venezuela.

Keterangan lebih lanjut dari sumber militer menjelaskan bahwa serangan tersebut dilancarkan secara mendadak pada waktu subuh. Penggunaan drone dan helikopter tempur secara serentak membuat kelompok gerilyawan yang berada di dalam kamp tidak sempat memberikan perlawanan berarti. Sumber itu juga menambahkan fakta penting bahwa sebagian besar dari korban tewas dalam operasi tersebut merupakan warga negara Venezuela sendiri. Kawasan hutan di barat daya Apure menjadi saksi bisu kedahsyatan gempuran udara yang menargetkan kelompok pemberontak bersenjata tersebut.

Keberadaan kelompok Tentara Pembebasan Nasional atau ELN sendiri dikenal sebagai salah satu faksi pemberontak paling berpengaruh di kawasan Amerika Latin. Pengaruh kelompok tersebut semakin kuat setelah pasukan gerilya FARC menandatangani perjanjian damai resmi dengan pemerintah Kolombia pada tahun 2016 lalu. Bersama kelompok pembangkang FARC yang kini telah bubar, ELN aktif beroperasi di sepanjang garis perbatasan. Mereka seringkali dikaitkan dengan berbagai aktivitas ilegal lintas negara yang sulit dikendalikan oleh aparat keamanan.

Aktivitas ilegal yang melibatkan kelompok-kelompok bersenjata tersebut meliputi praktik perdagangan narkoba lintas negara yang sangat meresahkan. Selain itu, mereka juga terlibat dalam kegiatan penambangan liar serta berbagai bentuk penyelundupan di wilayah perbatasan. Garis perbatasan darat antara Venezuela dan Kolombia sendiri dikenal sangat terbuka serta membentang sepanjang 2.200 kilometer. Panjangnya garis perbatasan ini menciptakan tantangan keamanan tersendiri bagi kedua negara dalam memberantas aktivitas kelompok pemberontak.

#MiliterVenezuela #PemberontakKolombia #FundaRedes